Senin, 30 Mei 2011

empati

A. Empati
 Pengertian empati
1. Keadaan afeksi seseorang yang seolah-olah mengalami sendiri keadaan emosi yang dialami orang lain berarti melibatkan kemampuan afektif seseorang.
2. Mampu memahami perasaan dan masalah orang lain dan berpikir dengan sudut pandang orang lain.
3. Kemampuan untuk ikut merasakan persepsi orang lain, yaitu memandang dan merasakan sesuatu seperti cara orang lain memandang dan merasakan.
4. Merupakan respon emosional
5. Melibatkan keterampilan kognitif, seperti kemampuan mengerti keadaan emosional orang lain.
Sehingga dari poin-poin di atas ,dapat disimpulkan bahwa empati adalah kemampuan afektif seseorang sehingga bisa memahami perasaan dan masalah orang lain, dan merasakan persepsi orang lain serta melibatkan keterampilan kognitif untuk memahami keadaan emosi orang lain.
Pengertian lain yang berkaitan dengan profesi konselor yaitu Empati adalah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan befikir bersama klien dan bukan untuk atu tentang klien. Empati juga merupakan salah satu kunci untuk dapat meningkatkan kualitas komunikasi antar individu. Empati berarti konselor dapat merasakan secara mendalam apa yang dirasakan oleh konseli tanpa kehilangan identitas dirinya. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending (menghargai) tanpa perilaku attending (menghargai) mustahil terbentuk empati. Empati merupakan kemampuan untuk memahami pribadi orang lain sebaik dia memahami dirinya sendiri.
 Komponen Empati :
1. Kemampuan afektif seseorang utntuk ikut memahami perasaan orang lain.
2. Ketrampilan kognitif untuk mengenal dan memahami pikiran dan pandangan orang lain.
 Aspek-Aspek Empati
Dari komponen kognitif diturunkan aspek perspective taking dan fantasy.
o Perspective taking adalah kecenderungan individu untuk mengambil alih secara spontan sudut pandang orang lain.
o Fantasy adalah kecenderungan individu untuk mengubah pola diri secara imajinatif ke dalam pikiran, perasaan, dan tindakan dari karakter-karakter khayalan pada buku, film, permainan atau orang lain.
Dari komponen afektif diturunkan aspek empatjic concern dan personel distress.
• Empathic concern merupakan perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain, khususnya untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain.
• Personal Distress adalah reaksi pribadi terhadap penderitaan orang lain yang meliputi perasaan terkejut, takut, cemas, prihatin dan tidak berdaya.
 Indikator Perilaku
1. Dari komponen afektif ampathic concern :
 Dapat memahami kehilangan yang dirasakan oleh orang lain
 Dapat mengenali kekecewaan orang lain
 Dapat memahami perbedaan perasaan orang lain
 Dapat menerima sikap orang lain
 Dapat menyelami perasaan orang lain.
2. Personal distress
 Ikut merasa sedih terhadap penderitaan orang lain.
 Ikut prihatin terhadap kondisi yang tidak menyenangkan pada orang lain.
 Merasa gusar akibat ketidakadilan yang dirasakan orang lain.

B. Pengelolaan Diri
Pengertian pengelolaan diri
The Liang Gie (2000:77) mengungkapkan bahwa pengelolaan diri adalah usaha mendorong diri sendiri untuk maju, mengatur semua unsur kemampuan pribadi, mengendalikan kemauan untuk mencapai hal-hal yang baik, dan mengembangkan berbagai segi dari kehidupan pribadi agar lebih sempurna. Pengertian pengelolaan diri menurut The Liang Gie dapat disimpulkan bahwa, pengelolaan diri terjadi karena adanya suatu usaha pada individu untuk memotivasi diri, mengelola semua unsur yang terdapat di dalam dirinya, berusaha untuk memperoleh apa yang ingin dicapai serta mengembangkan pribadinya agar menjadi lebih baik. Sedangkan menurut El-Qorni (2009) bahwa pengelolaan diri merupakan pengendalian diri terhadap pikiran, ucapan, dan perbuatan yang dilakukan, sehingga mendorong pada penghindaran diri terhadap hal-hal yang tidak baik dan peningkatan perbuatan yang baik dan benar.
Sejalan dengan pengertian diatas, dalam Wikipedia (2007:01) juga menjelaskan bahwa pengelolaan diri adalah kemampuan untuk mengelola pikiran, perilaku, dan perasaan dalam diri seseorang untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Menurut pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa individu mampu mengelolaan dirinya yaitu individu yang memiliki kemampuan mengatur dan mengelola, pikiran, perilaku dan perasaannya untuk dapat memperoleh apa yang ingin dicapai. Fikriana (2007:01) mengungkapkan bahwa: Pengelolaan diri merupakan kemapuan seseorang untuk mengurus dirinya sendiri. Dalam pengelolaan diri terkandung 3 (tiga) unsur utama yakni, perasaan (affection), perilaku (behavior), pikiran (cognition). Ketiga unsur di atas antara satu dengan yang lain saling berkaitan. Jika salah satu dari unsur tersebut terganggu, maka kemampuan pengelolaan diri tidak dapat dikembangkan dengan baik. Sebagai contoh, seorang konselor yang tidak mampu memanjeman dirinya sedang mengalami masalah akibat menumpuknya tugas dari sekolah yang belum dikerjakan, akibatnya perasaanya tidak tenang akibat tugas-tugas tersebut, mempengaruhi juga pikiran dan perilakunya yang ditunjukkan dengan menolak melakukan konseling kepada siswa dengan alasan sibuk. Sebaliknya, ketika individu dapat mengelola semua unsur yang terdapat di dalam pengelolaan diri yang meliputi, fikiran, perasaan, dan tingkah laku, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut telah dapat mengembangkan kemampuan pengelolaan dirinya. Kendala yang sering terjadi adalah masalah yang berkaitan dengan hati. Jika kendala ini tidak dapat diatasi, maka individu gagal dalam mengembangkan pengelolaan dirinya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan pengertian pengelolaan diri adalah suatu kemampuan individu untuk mampu menata mengatur dan menyusun dirinya dengan baik sehingga mampu menumbuhkan pikiran, perasaan, dan perilaku yang sesuai dengan pencapaian tujuan hidupnya.
Ciri-ciri Pengelolaan diri
Gie (2000:78) mengemukakan dalam pengelolaan diri mencakup sekurang-kurangnya 4 (empat) ciri sebagai berikut;
1. pendorongan diri (self motivation)
2. Pengorganisasian diri (self organization)
3. pengendalian diri (self control)
4. pengembangan diri (self development).
Pendorongan diri merupakan keinginan individu untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya disertai semangat yang tinggi. Pengorganisasian diri merupakan pengaturan sebaik-baiknya terhadap pikiran, energi, waktu, tempat, benda dan semua sumber daya lainnya dalam hidup pribadi sehingga tercapai efisiensi. Pengendalian diri yaitu membina tekad untuk mendisiplin kemauan, memacu semangat, mengikis keseganan dan mengerahkan energi untuk benar-benar melaksanakan apa yang harus dikerjakan guna mencapai hasil yang diinginkan. Pengembangan diri merupakan upaya yang dilakukan individu dalam membentuk watak dan kepribadian diri dengan mengembangkan bakat, minat, kreativitas, kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan, kemampuan sosial, kemampuan belajar serta kemandirian dalam melakukan aktivitas.
Keempat ciri yang telah disebutkan di atas tadi dikatakan bahwa individu yang mampu mengelola diri dengan baik, Begitu pula dengan konselor yang mampu memanajem diri dengan baik apabila dia dapat memotivasi dirinya, mengorganisasikan dirinya dengan baik, dapat memiliki pengendalian diri yang kuat dan sengangtisa mampu mengembangkan dirinya.
Teknik Pengelolaan diri
Menurut Yates (1985: 04) pada sesi ini memperkenalkan secara spesifik mengenai teknik bagi perubahan tingkah laku, cara berfikir, da perasaan. Banyak teknik yang mendukung tidak hanya berdasarkan teori dengan Perkiraan akan bekerja, tapi oleh percobaan di suatu klinik teknik ini dapat dilakukan pada banyak orang. Masing- masing teknik berbeda dalam penggunaannya individu harus belajar agar siap untuk memulai apapun tugas pengelolaan diri yang dipilih.
Teknik di dalam self management dibagi menjadi empat kategori:
1. Manajemen dengan kebiasaan: mengontrol respon individu dengan mengontrol apa yang di dahulukan
2. Manajemen dengan konsekuensi: perubahan respon dengan perubahan apa yang diikuti
3. Teknik kognitif, modivikasi cara berfikir untuk memodifikasi/merubah tingkah laku, perasan, dan perubahan lainnya
4. Teknik afektif: perubahan emosi/perasaan secara langsung.
Strategi pengelolaan diri menurut Cormier (2008:580) dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu:
1. Self-monitoring merupakan pengamatan dan rekaman fakta-fakta perilaku pada diri individu berupa pikiran, perasaan dan tindakan tentang dirinya dan interaksinya terhadap lingkungan.
2. Stimulus control merupakan rangsangan untuk mengatur pikiran, perasaan dan tindakan individu untuk meningkatkan atau menurunkan perilakunya.
3. Self- reward merupakan pemberian rangsangan positif pada diri individu mengikuti respon yang diinginkan.
4. Self-as-a model merupakan penggunaan dirinya sebagai model; melihat perbuatan individu lain sesuai tujuan perilakunya dengan cara yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA
http://phietablogdiary.blogspot.com/2009/06/pengertian-empati-1.html diunduh tanggal 4 Februari 2011 pukul 11:14
http://elqorni.wordpress.com/2009/02/06/manajemen-diri-self-management/ diunduh tanggal 4 Februari 2011 pukul 11:16
http://fikriana.wordpress.com/2007/06/20/manajemen-diri/ diunduh tanggal 4 Februari 2011 pukul 11:17
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2109861-proses-mendengarkan-empatik/ diunduh tanggal 4 Februari 2011 pukul 11:20
http://omdimas.com/apakah-itu-empati/ diunduh tanggal 4 Februari 2011 pukul 11:22
http://www.f-buzz.com/2008/05/28/apakah-yang-dinamakan-empati/ diunduh tanggal 4 Februari 2011 pukul 11:25
http://kosmatar09.blogspot.com/2010/07/pengelolaan-diri.html diunduh tanggal 4 Februari 2011 pukul 11:35
http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_diri diunduh tanggal 4 Februari 2011 pukul 11:41
http://www.promagmulia.com/skill/detail/10/management-diri.html diunduh tanggal 4 Februari 2011 pukul 11:50

Tidak ada komentar:

Posting Komentar